Archive

Archive for the ‘review buku’ Category

Review Buku: Operasi Gelap CIA

July 1, 2009 6 comments
Lengkapnya, buku ini berjudul “Operasi gelap CIA sepak terjang CIA menguasai dunia“.Seperti judulnya, buku ini mengangkat operasi operasi intelejen CIA yang merupakan badan intelejen Amerika yang paling disegani, ditakuti dan juga paling banyak di hujat mengenai operasi mereka yang destruktif di berbagai negara negara, terutama negara negara yang dianggap tak sejalan dengan kebijakan Washington. Di buku ini di paparkan bagaimana CIA melakukan operasi operasi mereka di beberapa negara seperti Cuba, Kamboja, Venezuela, Chilli, Irak, Panama, Pakistan, Myanmar, Tibet dan bahkan Indonesia, serta masih banyak daftar negara negara korban campur tangan CIA. Buku setebal 187 halaman ini patut di baca karena banyak peristiwa peristiwa penting di dunia yang ternyata CIA berada di belakang semua nya, tujuan nya bermacam macam, mulai karena minyak atau sekedar ingin menempatkan pemimpin pemimpin baru di negara sasaran operasi yang lebih patuh terhadap kepentingan kepentingan Amerika, dengan kata lain di “boneka” kan.
Sarana Intelejen memang sangatlah penting untuk eksistensi sebuah negara dalam menjaga ancaman eksternal maupun internal nya. Intelejen pasti selalu akan memainkan peran peran penting dan mengiringi perjalanan sejarah sebuah bangsa dan dalam hal ini perjalanan sejarah dunia, karena tak jarang sebuah kejadian besar dalam sejarah merupakan hasil kerja tangan dingin mereka, seperti kematian Benazir Bhutto dan masih banyak lain nya, maka tak aneh bila mereka di juluki intelejen paling merusak dan juga di segani di dunia. ada yang tertarik memiliki bukunya? saya sudah beli, giliran anda sekarang..!
Advertisements
Categories: review buku

Review Buku : Gideon Spies : Secret History Of Mossad

June 26, 2009 2 comments
G ideon Spies, Sebuah buku yang membahas mengenai kerja balik layar agen intelejen kuat dunia Mossad dalam melakukan misi nya yang destruktif ke seluruh penjuru dunia. Dibahas mengenai teka teki kematian Lady Diana yang ternyata di bekingi oleh agen mossad dengan perintah dari kerajaan Inggris karena tidak menyukai bila penerus tahta mereka nanti ( pangeran william dan Edward ) akan memiliki seorang ayah tiri beragama Islam ( Dody Al fayed ), ada pula kisah kisah penangkapan Adolf Eichmann ( sang jagal Auschwitch ) di argentina yang direncanakan sangat matang, dan berhasil menangkap Eichmann hidup hidup untuk selanjutnya di ekseskusi di Israel.

Bagi teman teman penyuka bacaan intelejen buku ini sangat cocok bagi kalian, terdiri dari dua jilid dan menguak hampir semua kejadian kejadian penting dunia yang ternyata Mossad berada di belakangnya.seperti kematian Lady Diana dan penangkapan Adolf Eichmann diatas, ada juga kisah tentang skandal seks Monica Lewensky dan Bill Clinton yang ternyata pembicaraan telepon nya di sadap oleh agen agen Mossad, ada pula cerita mengenai keterlibatan percobaan pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II, dan yang sangat heboh adalah keberadaan satelit mata-mata Amerika Serikat, ECHELON yang konon bisa mendengarkan semua percakapan telepon dari seluruh dunia! gila! Buku ini saya beli seharga 50.000 an ( lupa lagi pas nya hehehehe ), bukunya sendiri sangat tebal dan saya menghabiskan waktu seminggu untuk menuntaskan jilid itu. So ada yang mau beli?

Categories: review buku

Buku Ancaman Global Freemasonry

Selama berabad-abad, Freemasonry telah memancing banyak diskusi. Sebagian orang menuduhkan aneka kejahatan dan hal buruk yang fantastis kepada Masonry. Alih-alih mencoba memahami “Persaudaraan” tersebut dan mengkritisinya secara objektif, mereka bersikap sangat bermusuhan terhadapnya. Sebaliknya, para Mason kian bersikukuh dengan tradisi tutup mulut terhadap semua tuduhan ini, dan lebih memilih untuk tampil sebagai klub sosial biasa yang bukanlah bentuk sejati mereka.

Buku ini berisi paparan yang pas tentang Masonry sebagai suatu aliran pemikiran. Pengaruh terpenting yang menyatukan para Mason adalah filsafat mereka yang paling tepat dideskripsikan sebagai “materialisme” dan “humanisme sekuler”. Namun, Masonry adalah suatu filsafat keliru yang berlandaskan pada berbagai anggapan yang salah dan teori yang cacat. Inilah hal mendasar yang mesti menjadi titik tolak untuk mengkritisi Masonry.

Pentingnya kritisisme semacam itu perlu diungkapkan sejak awal, tidak hanya untuk menjelaskan subjek ini kepada non-Mason, tetapi juga untuk mengajak para Mason sendiri memahami kebenaran. Tentu saja, sebagaimana orang lain, para Mason bebas memilih sendiri, dan dapat mengambil cara pandang apa pun yang mereka inginkan tentang dunia dan hidup sesuai dengannya. Ini adalah hak asasi mereka. Tetapi, orang lain pun punya hak untuk memaparkan dan mengkritisi kekeliruan-kekeliruan mereka, dan itulah yang coba dilakukan buku ini.

Kami pun menggunakan pendekatan yang serupa dalam kritisisme kami terhadap komunitas lainnya. Terhadap orang Yahudi misalnya. Sebagian buku ini juga bertalian dengan sejarah Yahudi dan mengajukan berbagai kritisisme tertentu yang penting. Harus dikemukakan bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan anti-Semitisme atau teori konspirasi “Yahudi-Masonik”. Memang, anti-Semitisme adalah sesuatu yang tak layak bagi seorang Muslim sejati. Orang Yahudi pada suatu masa telah menjadi bangsa yang dipilih oleh Allah, dan kepada mereka dikirimkan-Nya banyak Nabi. Sepanjang sejarah mereka telah ditimpa banyak kekejaman, bahkan menjadi korban pemusnahan massal, tetapi mereka tidak pernah menanggalkan identitas mereka. Di dalam Al Quran, Allah menyebut mereka, bersamaan dengan orang Nasrani, sebagai ahli kitab, dan memerintahkan orang Islam memperlakukan mereka dengan baik dan adil. Tetapi, bagian penting dari sikap adil ini adalah mengkritisi berbagai keyakinan dan praktik yang salah dari sebagian mereka, menunjukkan kepada mereka jalan menuju kebenaran sejati. Tetapi tentu saja, hak mereka untuk hidup sesuai dengan apa yang mereka percayai dan kehendaki tak perlu dipertanyakan lagi.

Buku Ancaman Global Freemasonry ini berangkat dari premis tersebut, dan secara kritis menelusuri akar Masonry, juga sasaran dan aktivitasnya. Dalam buku ini, pembaca juga akan menemukan ikhtisar sejarah pertarungan para Mason melawan agama-agama ketuhanan. Freemason memainkan peranan penting dalam alienasi Eropa dari agama, dan seterusnya, membangun ordo baru yang berlandaskan kepada filsafat materialisme dan humanisme sekuler. Kita juga akan memahami bagaimana pengaruh Masonry dalam penekanan dogma-dogma ini kepada peradaban non-Barat. Akhirnya, kita akan membahas metode-metode yang digunakan Masonry untuk membantu pengembangan dan pelestarian tatanan sosial yang berdasarkan dogma-dogma ini. Filsafat mereka dan metode yang mereka gunakan untuk mengembangkan filsafat ini akan didedah dan dikritisi.

Diharapkan bahwa fakta-fakta penting yang diuraikan di dalam buku ini akan menjadi sarana bagi banyak orang, termasuk para Mason sendiri, agar mampu melihat dunia dengan kesadaran yang lebih baik. Setelah membaca buku ini, pembaca akan mampu mempertimbangkan banyak hal, dari aliran filsafat hingga kepala berita surat kabar, dari lagu rock hingga berbagai ideologi politik, dengan pemahaman yang lebih dalam, serta melihat dengan lebih baik arti dan tujuan di belakang berbagai peristiwa dan faktor.


Lebih Lanjut Download Buku nya disini

Image and video hosting by TinyPic
Categories: review buku

Review buku “Demokrasi Barbar ala Amerika”

April 19, 2009 3 comments
“Demokrasi Barbar ala Amerika”, sebuah buku karangan Jerry D.Gray yang juga mantan serdadu AS dan memutuskan keluar dan juga melepaskan kewarganegaraan nya sebagai seorang Amerika menuliskan betapa besarnya cerita bohong yang telah disebarkan pihak pihak tertentu di Amerika untuk memusuhi pihak lain, dan juga kejahatan kejahatan yang di lakukan serdadu Amerika yang (konon) paling menghargai “demokrasi” serta intrik intrik politik dalam upayanya merusak perdamaian dunia.

Mari kita tanggalkan bersama rasa egoisme, rasa bangga berlebihan sebagai warga negara, dan juga semua kesombongan yang meliputi kita. Mari gunakan sebuah organ kecil kita yang bernama Hati, sebuah organ yang bukan cuma seonggok daging namun memiliki arti kata lain yang menggambarkan sisi kemanusiaan, yah tentu saja kemanusiaan karena kita bukanlah hewan buas yang hidup di rimba belantara dan sanggup memangsa siapa saja untuk mengisi kantung kantung perut yang selalu lapar. Mari kita gunakan juga anugerah Visual yang telah di sertakan dalam penciptaan Nya..mata, mata yang mana bisa melihat dan bersaksi akan apa yang sedang terjadi di hadapan kita, mata dimana begitu sensistif nya hingga membuat kita meneteskan air mata demi menyaksikan sesuatu yang di tangkap organ visual kita dan di transfer dengan kecepatan tinggi menuju relung hati terdalam. Kita terlahir sebagai manusia yang memiliki hati dan perasaan..sekali lagi..karena kita adalah manusia.

Politik yang begitu buas mengantarkan sebuah Negara bernama Amerika menyingkirkan sisi sisi kemanusiaan diatas. Tangan tangan berkuasa mereka sanggup melakukan intervensi berlebihan terhadap siapa pun yang tidak mereka sukai dan melenyapkan atau membungkam nya dengan berbagai cara. Dalam buku ini disertakan pula bagaimana agen intelejen CIA melakukan konspirasi konspirasi besar untuk mengacaukan pemerintahan Negara lain dengan mandat Presiden mereka sendiri. Prescot Bush (kakek George bush) merupakan seorang yang pernah turut ambil bagian membantu pihak NAZI untuk membiayai perang yang melanda Eropa namun tetap saja menjadi orang yang tidak bersalah karena keterlebitan nya. CIA banyak merekrut orang orang NAZI dalam organisasinya yang merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas hancurnya Eropa namun dapat terlindung begitu saja karena Track record dan semua dosa dosa nya bisa di hapus seketika oleh CIA. Mantan Sekjen PBB yang juga ternyata seorang mantan simpatisan NAZI, Kurt Wildheimm. Apa yang sedang terjadi di panggung dunia? Terlalu banyak konspirasi konspirasi busuk yang selalu memiliki ruang untuk menegosiasikan sebuah permasalahan demi pencapaian tujuan tertentu.


Penjara Guantamo merupakan sebuah penjara terkejam yang pernah ada, yang mungkin hampir menyerupai kamp kamp Auchswitch NAZI yang memperaktekan penyiksaan (torture) modern dengan menyetrum dan peregangan dan masih banyak lagi jenis jenis penyiksaan yang tidak berperikemanusiaan. Penjara ini terkesan Ekslusif seolah olah diperuntukan bagi umat Islam yang sudah mendapat cap teroris! Media barat ikut andil dalam pemunculan stereotype kalau Islam adalah teroris. Mengapa Amerika sungguh ingin menyiksa kita sebagai Muslim? Al-quran di buang kedalam toilet yang merupakan tindakan yang melecehkan harkat martabat umat Islam. Kenapa Amerika sebuah Negara yang (konon) memiliki nilai toleran dan demokrasi tinggi melakukan itu kepada sesama manusia? Kapitalisme ala Amerika bahkan mungkin lebih kejam ketimbang kediktatoran itu sendiri! Itu baru Guantanamo, belum lagi penjara Abu ghuraib di Irak ! berhentilah dan buanglah pikiran kalian akan demokrasi Amerika dan Heroisme ala Amerika! karena mungkin semua itu hanya ada di film film Hollywood yang kita tonton !!


Mari kita ambil kalkulator, saya rasa benda ini mudah di dapati disekitar kita, kali ini kita akan menghitung berapa besar kehancuran dan nyawa yang dipaksa berangkat ke alam baka dan dibuat sengsara hidupnya oleh sang maestro demokrasi, Amerika (konon katanya). Okey here we Go !


* 3.000.000 orang Vietnam terbunuh sebagai hasil 30 tahun agresi dan provokasi Amerika di Vietnam.


* Lebih dari 300.000 orang Jepang terbantai ketika Amerika menyerang Tokyo dan menjatuhkan Bom Atom (Hiroshima dan Nagasaki) diatas daerah padat penduduk, dan bukan di barak atau instalasi militer Jepang.


* Lebih daei 600.000 rakyat sipil terbunuh di kamboja karena kampanye bom AS sejak tahun 1969 hingga 1975.


* Lebih dari 500.000 rakyat terbunuh di Laos ketika Amerika menjatuhi rakyat sipil dengan “bom rahasia” dari tahun 1964 sampai dengan 1973. AS menjatuhkan 2 Juta Ton Bom di seluruh negeri.


* Paling sedikit 100.000 orang dibunuh di Korea Selatan sebelum terjadi perang Korea karena penindasan yang brutal yang di dukung oleh angkatan bersenjata AS pada tahun 1945. Angka ini termasuk juga 30.000 hingga 40.000 orang yang terbunuh selama penekanan terhadap pemberontakan rakyat miskin di pulau Cheju.


* Kurang lebih 4.500.000 orang Korea di bantai mulai tahun 1951 hingga 1953. dan lagi lagi ini adalah salah satu peran besar Amerika sang peneguh demokrasi (konon).


* 200.000 orang di bunuh ketika Philipina di tundukkan oleh kekuatan Amerika. Banyak orang yang tidak mengetahui bagian dari sejarah ini (hal ini terjadi 100 tahun lalu).


* 23.000 orang dibantai di Taiwan oleh tentara nasional Chiang, sebuah kekuatan yang dibekingi dan dipersenjatai oleh Amerika serikat pada tahun 1940-an.


* Lebih dari 1.700.000 nyawa hilang saat terjadi perang Irak – Iran tahun 1980-an yang di dukung oleh AS terhadap Saddam Hussein dan Irak.


* Selama 1990-an lebih kurang 35.000 warga Kurdu terbunuh, 3500 desa hancur dan diantara 2.000.000 hingga 3.000.000. orang tak memiliki tempat tinggal tinggal setelah diserang oleh agresi Turki yang dipersenjatai dan dilatih oleh Amerika.


* Sejak 1979 hingga 1992 lebih dari 1.000.000. orang terbunuh pada perang sipil di Afghanistan. Amerika serikat mendukung Mujahidin ( ini membangun fondasi bagi Taliban yang di dukung CIA memperoleh kekuasaan). Hari ini Taliban adalah “teroris” di mata sang Adidaya Amerika Serikat.


* Lebih dari 45.000 orang terbunuh di libanon selatan ( Sabra-Shatilla ) sejak 1982 oleh Israel yang tentu saja dibantu secara militer oleh Amerika Serikat, dan Amerika selalu akan dibelakang Israel terlepas benar atau tidak tindakan Israel di muka bumi ini.


* Ribuan terbunuh di Palestina dan jutaan (di Palestina dan Lebanon) menjadi pengunsi karena Israel yang di dukung oleh Amerika Serikat, dan itu masih berlangsung hingga saat ini!


* Lebih dari 150.000 orang terbunuh di Yunani ketika Amerika memberikan nasihat, peralatan dan dana saat melakukan campur tangan yang keras pada akhir tahun 1940-an dan akhir tahun 1960-an


* Sejak 1980 hingga 1994 lebih dari 75.000 rakyat sipil tak berdosa terbunuh dan lebih dari 1.000.000 pengungsi meninggalkan El Salvador ketika AS mendukung rejim yang sangat kejam dan tentara pembunuhnya untuk menghabisi seorang pemimpin yang menanjak pamornya.


* 40.000 rakyat sipil terbunuh oleh penjaga nasional di Nikaragua yang di dukung oleh Amerika sejak tahun 1979 hingga 1989.


* Paling sedikit 200.000 rakyat Guetamala dibunuh sejak 1960 – 1990 an oleh aparat militer yang dilatih dan dipersenjatai oleh Amerika.


* 35.000 rakyat sipil tak berdosa terbunuh di Panama saat penyerangan AS tahun 1989.


* Ratusan ribu orang terbunuh oleh intervensi AS pada tahun 1989 baik secara langsung maupun tidak langsung ke Brasil, Chile, Uruguay, Peru, dan Argentina sejak pertengahan 60-an sampai 1980 an


* 50.000 rakyat Haiti terbunuh saat militer AS melumpuhkan kebangkitan kaum miskin pada tahun 1915.


* Ribuan manusia terbunuh selama 1960-an di republic Dominika saat tentara Amerika dan tentara republic Dominika menghancurkan pemberontakan pro Bosch.


* Lebih dari 3.000 terbunuh dan tak terhitung jumlah rakyat yang luka luka akibat Amerika mengintervensi Kuba.


* Ratusan rakyat mati dan luka luka saat AS menyerang Granada di tahun 1983.


* Lebih dari 50.000 rakyat Somalia terbunuh antara tahun 1978 dan 19990 oleh Siad Barre yang di dukung oleh Amerika serikat!.


* Sekitar 10.000 atau lebih rakyat Somalia terbunuh saat Amerika melakukan “misi kemanusiaan” pada tahun 1993.


* Pembunuhan missal di Rwanda yang di dukung oleh Amerika diperkirakan korban tewas berjumlah 800.000 dalam 100 hari pada tahun 1994.


* Lebih dari 300.000 terbunuh di Angola dan 80.000 orang menjadi cacat karena perang sipil yang di dukung Amerika serikat.


* Di Chad 10.000 –an manusia terbunuh dan hingga 200.000 di siksa oleh Hissen Habre dengan di dukung oleh Amerika serikat.


* 1.500.000 atau lebih terbunuh sejak 1980 dan 1988 di Afrika bagian selatan dan lagi lagi “berterima kasih lah” pada Amerika sang pemeluk Demokrasi paling taat di dunia.


* Jutaan orang di pulau Pasifik, Puerto Rico, Utah, Kalifornia, Nevada, Washington, New Mexico, dana tempat lainnya tewas terinfeksi atau disakiti secara tidak sengaja oleh Amerika karena percobaan pengujian pengujan senjata (khususnya pengujian nuklir dan senjata menggunakan uranium yang dikosongkan)


* Lembaga lembaga pemerintahan AS telah memukuli , menyiksa, menjebak dan membunuh ratusan aktivis Hak Hak Asasi Manusia.


* Ratusan pendukung Black Phanter dan Indian Amerika dijebak, dipukuli atau dibunuh oleh FBI dan pengikutnya pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.


* Sejak 11 september 2001 lebih dari 1.000 Muslim Amerika “menghilang” dan telah ditahan tanpa adanya bukti kesalahan.


* Hingga hari ini ribuan terbunuh di Afghanistan oleh “perang Amerika melawan terror” yang selalu di dengung dengung kan nya.

Oke, finish? Belum ! semua itu baru beberapa dari catatan sejarah kelam umat manusia yang harus di buat menderita dan meregang nyawa di hadapan kebijaksanaan sang paman Sam. Masih banyak lagi kejadian pembantaian Indian pada masa awal Amerika terbentuk, tindakan rasial terhadap warga Afrika di Amerika sampai mungkin kejahatan NAZI terhadap Yahudi eropa yang ternyata di dukung dan di danai oleh Amerika sebagai bos besar, dan entah sadar apa tidak, Israel tetap menjadi kawan setia sehidup semati senasib sepenanggungan yang selalu siap kapan saja anytime, anywhere..! Berapa jumlah yang berhasil kawan kawan kalkulasikan dari jumlah orang orang yang dibuat menderita dan di kirim ke Alam Baka oleh Amerika sesuai daftar di atas? Saya sendiri tak sanggup menghitungnya Karena sekecil kecil apapun jumlah angka itu, tetaplah nyawa yang harus dihargai hak hidupnya. Kita bukan sedang menghitung laba untung rugi perusahaan kita kan? Bukan juga menghitung utang yang harus kita bayar bulan depan, dan juga bukan menghitung tabungan kita di Bank. Kita menghitung tentang jumlah orang orang yang di cabut paksa hak hidupnya dan menderita karena ulah sang punggawa demokrasi ( lama lama saya muak sendiri dengan tulisan saya mengenai amerika dan demokrasi).


Saya yakin tidak semua orang Amerika disana jahat. Selalu ada orang yang menjaga nurani nya tetap bersih dengan pandangan bersih melihat benar atau salah, hanya di sayangkan para pengambil keputusan dan posisi posisi strategis di Amerika lah yang membuat amerika menjadi begitu jelek nya di mata dunia. Penulis buku ini berulang kali menyatakan agar pembaca memaafkan orang orang di Amerika karena kesalahan mereka baik akibat doktrin media dan pendidikan, pola pikir masyarakat yang telah memandang negara lain di luar Amerika sebagai ANCAMAN dalam negeri Amerika. Coba lah warga Amerika keluar dari negerinya dan menetap di negeri lain, dan pandanglah Amerika dari kejauhan..niscaya mereka akan tahu apa yang sedang terjadi di Amerika dan bukan sekedar menjual American dream semata.


Saya rekomendasikan kawan kawan membaca buku ini bila ingin mengetahui sepak terjang sang adidaya di kancah dunia yang kita sayangi ini, semoga mata hati kita terbuka untuk lebih mengenal jauh ke lubuk hati kita semua kalau kita semua ini manusia yang merindukan kedamaian di dunia sebelum kita semua di panggil ke pangkuan Nya (Panzer,dipersilahkan buat teman teman untuk mengcopy paste artikel ini dengan mencantumkan url blog ini, selamat membaca)

Categories: review buku

Review Buku : From Beirut To Jerusalem

April 7, 2009 4 comments
seperti biasa awal bulan selalu di tunggu tunggu, bagi saya awal bulan berarti harus ada buku yang di beli buat koleksi, kebetulan buku yang jadi target adalah “tears of heaven from Beirut To Jerusalem” yang merupakan kesaksian dari Dr.Ang Swee Chai, seorang dokter yang menjadi sukarelawan di Libanon dan merupakan saksi mata kejadian pembantaian (massacre) Sabra-Shatila yang begitu kejam itu. Buku ini jadi kontroversial terutama di pihak Amerika yang bahkan melarang buku ini untuk beredar di Amerika. Ada apa dengan Amerika? Negara yang (konon) menjunjung demokrasi ini yang dikenal hebat (konon) dengan kebebasan bersuara nya ternyata tidak berani menerima peredaran buku mengungkap fakta ini. Ada apa dengan Amerika? Apa ini berarti membuktikan Amerika ikut berperan dalam pembantaian Sabra – Shatila lewat IDF atau milisi milisi lokal Libanon? Hanya Tuhan yang tahu. Dan satu hal yang harus kita ingat bersama, pembantaian Sabra-Shatila merupakan pembantaian yang di saksikan oleh banyak orang begitu pula kejadian Holocoust di jerman yang menurut para pembela Holocoust merupakan kejadian yang paling terekam oleh sejarah dimana saksi saksi nya begitu banyak dan terekam oleh dokumentasi visual (kamera potret maupun kamera video) !. Namun yang terjadi kemudian adalah para korban di anggap tidak ada dan kebenaran disana di tutupi. Saya menyayangkan adanya pihak pihak barat yang tidak mau menyiarkan fakta yang ada di lokasi pembantaian, pengungsi palestina, perawat, dokter dan jurumedis lain nya banyak yang di bantai dan lagi lagi dunia tutup mata akan kejadian ini, ini terbukti kalau Media ambil peranan besar dalam sebuah kejadian, dimana hanya hati nurani lah yang bisa membuat mereka berkata sesungguhnya kepada dunia.


Penulis disini merupakan salah satu korban media yang mana awal sebelum keberangkatan sebagai sukarelawan ke Libanon memilik pola pikir yang sama dengan “orang barat” lainnya yang menganggap bangsa Palestina sebagai perusuh dan PLO sebagai “teroris”. Ini terbukti media mengambil peran penting dalam membelenggu informasi sehingga informasi yang beredar di dunia barat akan terus menyudutkan Palestina dan informasi bisa diatur demi kemauan pihak pihak tertentu. Itulah dunia, jahat memang, dan segala sesuatu bisa di beli dan di buat sesuai keinginan Sang Penguasa. Hingga akhirnya penulis terpanggil jiwa nya untuk turun ke lokasi bertikai sebagai jawaban jiwa kemanusiaan serta mengabdikan ilmu kedokteran yang dimilikinya.

Di lokasi pertikaian, Libanon, penulis perlahan mulai mengerti akan arti sebuah home land yang di impikan oleh banyak orang Palestina, yang sejak tahun 1948 telah terusir dari rumah nya sendiri. Pola pikir bahwa orang Palestina seperti yang di gambarkan dalam alkisah David dan Goliath yang begitu bengis perlahan luntur, ada keakraban disana, keramahan, kekeluargaan dan juga kasih sayang. Penulis bergolak bathin nya saat mengetahui nya secara langsung dan akan apa yang ada dalam cerita cerita orang barat mengenai konflik di Libanon itu. Perlahan namun pasti jawaban hati penulis di jawab oleh waktu di mana tentara tentara IDF Israel dan milisi milisi yang menjadi pengikutnya membantai pengungsi pengungsi di Sabra – Shatila dengan kejam! , membunuh setiap wanita dan anak anak yang ada di dalam kamp karena menganggap kalau masih ada pejuang pejuang PLO disana. Padahal pejuang pejuang PLO sudah di evakuasi pada beberapa waktu sebelum nya di bawah pengawasan pasukan perdamaian PBB, dan para pejuang PLO tersebut telah memasrahkan keluarga mereka di kamp untuk di lindungi oleh PBB dan pihak barat pun menyanggupi nya. Nah yang terjadi di luar dugaan, IDF masuk dan membunuh semua yang ada disana tak pandang wanita, anak anak, bahkan tenaga tenaga medis sekalipun, mereka di bunuh dengan sadis, ada yang di tembaki kepala nya, ada yang di ledakkan oleh granat, ada yang di penggal dan aneka cara cara sadis lainnya yang sangat tak manusiawi. Dalam doktrin mereka, selain orang Israel bukan manusia dan disamakan oleh hewan.. Penulis disini menjadi saksi dimana saat dia berjalan menyusuri jalan yang bergelimpangan mayat mayat tercabik cabik hangus dan darah menggenangi setiap tempat. Disinilah akhirnya dia tahu seperti apa Israel dan semua kebijakan nya.
Dalam hal ini dari dalam pihak Israel sendiri ratusan orang berunjuk rasa menentang pembantaian ini serta ratusan tentara IDF yang dengan terang terangan menolak bertugas ke Libanon di jebloskan ke dalam penjara.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic


Secara keseluruhan buku ini bercerita secara runtut dan memainka emosi.penulis merupakan seorang pekerja namun sanggup menghadirkan suasana yang dramatis, buku ini semoga bisa membuka kebenaran dan pola pikir kita semua tentang apa itu Kemanusiaan, apa itu perang dan apa itu politik. Penulis telah berusaha untuk mengabadikan semua yang di lihatnya pada saat kejadian dan sempat mengirim Faks berisikan kesaksian pembunuhan massal ke Inggris dan menyuruh suami nya untuk menyebarkan ke media dan siapa saja, namun berita kesaksian itu di tolak oleh surat kabar Inggris dengan alasan tidak memilik nilai jual, Ya Tuhan…2400 jiwa terbunuh sia sia (data tersebut dari ICRC dan kemungkinan bisa lebih banyak lagi) dan menurut mereka tidak memiliki nilai jual! Apakah keadilan tak boleh di informasikan kepada dunia?apakah itu disengaja agar pola pikir masyarakat barat tetap pada pendirian bahwa orang Palestina merupakan perusuh dan PLO merupakan “teroris”?

Categories: review buku

Review Buku Jerusalem

March 10, 2009 5 comments
Kemaren pas libur maulid, saya bersama seorang teman jalan jalan ke toko buku, dan ngunjungin salah seorang teman yang berkerja disitu, saya sempet keliling melihat lihat koleksi buku disitu, kebetulan sudah lama saya nggak nambah koleksi buku saya, biasanya setiap bulan saya pasti menyiapkan anggaran buat membeli buku, dah 4 bulan saya gak beli buku dan kemudian saya coba coba lihat lihat aja koleksi bukunya, kebetulan saya suka sekali membaca buku buku tentang politik dan ke militeran. Hmm saat mencari cari itulah saya berhenti pada sebuah deretan buku yang memajang buku berjudul “jerusalem”..menarik sekali buku ini, saya selalu tertarik dengan buku yang ada sangkut pautnya dengan konflik di timur tengah (sengketa tanah palestina-israel), saya sudah memiliki beberapa buku lainnya yang membahas perang Yom Kippur dan Holocoust. Saya tertarik dan kemudian membelinya walaupun agak mahal, tapi its okey lah, gak ada yang mahal buat sebuah pengetahuan kan?

Buku “Jerusalem” ini di tulis oleh Trias Kuncahyono dan penerbitnya dari percetakan Kompas, buku ini sangat menarik karena ditulis secara runtut dan merupakan perjalanan pribadi sang penulis ke tanah suci Jerusalem. Jerusalem, sebuah kota Suci bagi tiga Agama Samawi,Kristen, Islam dan yahudi. Tanah yang suci, damai dan berlimpah berkah ini seolah tak henti hentinya bergolak sejak beribu ribu tahun lalu, disana kedamaian dan permusuhan seolah dipisahkan oleh seuntai benang tipis.ironis memang!.Sebuah kota yang dibangun, ditaklukkan dan kemudian dihancurkan lagi begitu seterusnya setiap bergantinya penguasa disitu. Ribuan pengungsi keluar dari Jerusalem dan kemudian kembali lagi, lalu mengungsi lagi setiap ada konflik.
Yesus pernah merasakan penderitaan disana saat di Salib sepanjang Via delarosa, hingga bukit Golgota, begitu pula ketika Nabi Muhammad SAW, melakukan perjalanan malam dari Makkah ke Al-quds dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha, dan ada tembok ratapan yang begitu suci bagi umat Yahudi, semua orang dari penjuru dunia berkumpul disitu berharap kedamaian hati dan mengenang perjalanan sejarah Agama yang di yakininya, penulis menggambarkan Jerusalem sebuagai kota yang sangat indah, semua yang ada disitu menanggalkan keduniawian mereka dan hanyut dalam kekhusyukan masing masing, sangat disayangkan memang kalo daerah itu selalu bergejolak dari masa ke masa dan di kotori oleh politik yang sangat kotor. Daerah disitu dibagi menjadi daerah Kristen, daerah orang Armenia, daerah Muslim dan Daerah Yahudi, mereka hidup berdampingan dengan damai dan tak ada konflik.mengapa sampai hari ini tidak ada kedamaian disana? Dalam buku ini di sebutkan adalah akar permasalahan terjadi saat perang Salib di kobarkan oleh Paus Urbanus II dan keputusan Inggris menjatuhkan mandat tentang negara Yahudi. Untuk lebih jelas nya dan kalau teman teman tertarik, coba saja membeli buku ini dan mungkin dari situ kita bisa banyak belajar mengenai apa itu damai, buat apa kita hidup dan kotornya Politik yang sudah bercampur dengan Agama.
Categories: review buku

Politics : Doktrinisasi Zionis

January 18, 2009 1 comment

Doktrinisasi Zionis

London, musim panas 1982. Malam demi malam siaran teve dihiasi dengan pemberitaan keadaan terkini tentang serangan Israel ke Lebanon. Lewat udara dan darat, tentara zionis itu membombardir wilayah-wilayah di Lebanon yang dituding sebagai tempat persembunyian pejuang-pejuang Palestina.

Salah seorang warga London yang setia menyimak perkembangan serangan Israel ke Lebanon itu adalah Ang Swee Chai, seorang perempuan, dokter ortopedis kelahiran Malaysia. Sebagai seorang tenaga medis, Dokter Ang begitu miris melihat banyaknya korban sipil yang jatuh akibat serangan itu yang terdiri dari anak-anak kecil dan perempuan tak berdosa.

Dalam bukunya yang menggetarkan “From Beirut to Jerusalem” (Kualalumpur, 2002), Dokter Ang menulis, “Lebanon dan Beirut adalah nama-nama asing bagiku. Sedangkan Israel sebaliknya. Gereja telah mengajarkanku bahwa anak-cucu bangsa Israel adalah anak-anak pilihan Tuhan. Teman-temanku sesama Kristiani mengatakan bahwa berkumpulnya orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia di Negeri Israel adalah pemenuhan janji Tuhan yang terdapat dalam pengabaran-pengabar an di Kitab Injil. ”

“Aku berpihak pada Israel untuk alasan lain, ” lanjutnya, “Di London, aku menghabiskan waktu berjam-jam menonton acara teve yang menyiarkan penderitaan luar biasa orang-orang Yahudi di tangan Nazi. …Penciptaan Negara Israel, yang memberi semua orang Yahudi sebuah rumah yang membuat mereka terbebas dari penganiayaan dan siksaan, menurutku adalah suatu tindak keadilan—bahkan suatu keadilan dari Tuhan. ”

Namun pandangan dokter Ang berbalik seratus delapanpuluh derajat ketika lewat layar kaca dirinya menyaksikan kebrutalan yang dilakukan tentara Israel terhadap para pengungsi Palestina di Lebanon.

“Ini benar-benar membuatku marah. Aku tidak bisa memahami mengapa Israel melakukan hal demikian. …Dalam Kitab Perjanjian Lama, raksasa Goliath adalah termasuk orang Filistin penakluk yang meneror lawan-lawannya. Kisah David dan Goliath menjadi salah satu kisah kesukaanku. Pada anak-anak kecil aku suka sekali bercerita bagaimana si kecil David bisa mengalahkan si raksasa Goliath, ” tulis Dokter Ang yang sosok tubuhnya sendiri sangat mungil, tingginya hanya 150 sentimeter.

“Meski demikian, dari ulasan teve yang selalu kulihat, tampaknya Israel telah berubah menjadi Goliath; seorang raksasa yang angkuh yang membawa kehancuran, teror, dan kematian kepada saudaranya, Lebanon. …Mengebom orang-orang sipil, dan banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, adalah cara pengecut dalam perang. Apakah Tuhan telah berpaling dari Lebanon?”

Dokter Ang kemudian menulis betapa sedih dirinya menyaksikan kebiadaban yang dipertontonkan ‘bangsa terpilih’ tersebut. “Pertama karena mereka telah disakiti oleh Israel, kedua karena aku seorang Kristen, dan ketiga aku adalah dokter. Aku sama sekali tak habis pikir betapa Israel tega menjatuhkan bom-bom fosfor ke tengah penduduk sipil di dalam kota yang sangat padat tersebut. ”

Tidak Sekadar Membunuh
Penderitaan bangsa Palestina dan Lebanon membuat Dokter Ang berangkat ke Beirut sebagai dokter sukarelawan. Di hari-hari pertama di Lebanon, Dokter Ang telah menjumpai banyak fakta bahwa di wilayah ini Israel telah melakukan semacam uji coba berbagai macam bom-bom terbaru buatan mereka.

Beberapa bom mutakhir Israel tersebut antara lain: Implosion bomb atau vacuum bomb yang dijatuhkan dari udara dan ketika meledak mampu menghisap satu blok bangunan sepuluh lantai ke dalam tanah hanya dalam beberapa detik, membuatnya menjadi tumpukan beton dan mengubur seluruh penghuninya hidup-hidup.

Selain itu ada lagi fragmentation bomb atau cluster bomb, yang juga dijatuhkan dari pesawat tempur. Beberapa puluh meter di atas udara, cluster bomb yang awalnya terlihat hanya satu akan memecah diri menjadi ratusan bola-bola besi kecil seukuran bola tenis dan menyebar dalam radius ratusan meter persegi. Bom-bom kecil ini tidak segera meledak dan tergeletak di dalam tanah. Jika seorang anak kecil mengutak-atiknya karena dikiranya sebuah mainan, maka bom ini akan meledak dan membunuh atau merusak bagian tubuh di anak tersebut. Bom ini biasanya sengaja dijatuhkan di lokasi padat penduduk.

Lalu ada fosfor bomb yang bersifat membakar. “Zat fosfornya menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri berkepanjangan. Para korban bom ini akan mengeluarkan gas fosfor hingga nafas terakhir, ” ujar Doker Ang.

Dalam bukunya, dokter yang bersuamikan seorang warga Inggris ini mengatakan bahwa Israel jelas tidak ingin sekadar membunuh musuh-musuhnya namun juga ingin membuat musuh-musuhnya menderita berkepanjangan sebelum menemui ajal.

Pembantaian Sabra-Shatila
Sabra-Shatila adalah nama dua buah kamp pengungsian Palestina di wilayah Beirut Barat yang letaknya berhimpitan. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi Mar Elias, Bour el-Brajneh, dan sebagainya.

Seperti layaknya kamp-kamp pengungsian Palestina lainnya, kamp pengungsian Sabra-Shatila yang luasnya tidak begitu besar dihuni oleh ribuan warga Palestina. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar sempit dan kumuh di mana fasilitas sanitasi dan kesehatan sangat tidak layak.

Beberapa pekan bertugas di Beirut, untuk menghentikan serangan membabi-buta yang dilakukan Israel, para pejuang Palestina akhirnya dievakuasi keluar dari Beirut diangkut dengan kapal-kapal laut di bawah kawalan Perancis dan Italia. PBB Mengirim sejumlah pasukan penjaga perdamaian. Sebab itu, Israel kemudian menghentikan serangannya, setidaknya untuk sementara waktu. Ini terjadi beberapa saat mendekati September 1982.

Di Beirut, orang-orang keluar dari tempat perlindungan dan membersihkan semua puing-puing dan jalanan. Harapan hidup kembali bersinar di mata-mata mereka. Bukan itu saja, sesuai permintaan PBB, para ibu-ibu Palestina juga menyerahkan semua senjata api yang tadinya disimpan di dalam rumah sebagai alat penjagaan diri kepada lembaga internasional.

“Harapan akan perdamaian terlihat di mata mereka. Para ibu-ibu Palestina menyerahkan semua senjata yang mereka miliki. Mereka mulai membersihkan jalan dan puing-puing rumahnya. Anak-anak kecil mulai bisa berlarian, bermain di jalan-jalan yang masih terlihat kotor oleh puing-puing yang disingkirkan ke pinggirnya. Mereka sangat yakin bahwa kehidupan akan pulih seperti sedia kala, ” ujar Dokter Ang.

Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Setelah jalan-jalan bersih dari tumpukan karung-karung berisi pasir, bersih dari beton-beton dan batu-batu yang tadinya sengaja dipasang sebagai barikade, setelah keluarga-keluarga Palestina di kamp pengungsian tidak lagi memiliki senjata, maka suatu malam, 14 September 1982, sebuah ledakan besar terdengar di seantero Lebanon. Calon Presiden Lebanon dari kalangan Kristen, Bashir Gemayel terbunuh.

Esok paginya, saat hari masih gelap, udara Lebanon dipenuhi gelegar raungan pesawat-pesawat tempur Israel. Burung-burung besi itu secara royal menjatuhkan bom-bom yang kembali melantakkan Beirut.

Bumi tempat Dokter Ang Swee Chai berpijak dirasakan bergetar oleh deru ratusan tank Merkava milik Israel yang berkonvoi masuk Beirut dan mengepung kamp pengungsian Sabra-Shatila. Tank-tank ini diikuti oleh tentara infanteri Israel dan sekutu mereka, Milisi Phalangis, yang terdiri dari orang-orang Kristen Lebanon bersenjata yang memang dekat dengan kaum Yahudi.

Kamp-kamp pengungsian yang waktu itu hanya dihuni oleh kaum wanita, jompo, dan anak-anak kecil serta bayi, karena para pejuang Palestina yang terdiri dari laki-laki muda telah pergi, kembali senyap. Mereka kembali masuk kembali ke rumah-rumahnya yang telah hancur dan mengunci diri di dalamnya. Kepungan yang dilakukan tank-tank dan tentara Israel sangat rapat sehingga seekor kucing pun tak akan bisa meloloskan diri.

Dokter Ang Swee Chai pagi hari segera menuju Rumah Sakit Gaza yang terletak tidak jauh dari kamp pengungsian Sabra-Shatila. Sepanjang hari Beirut Barat dihujani bom yang dimuntahkan dari tank dan pesawat pembom.

“Pukul empat kurang lima belas menit di sore hari, zona pengeboman telah mendekati jarak tiga perempat kilometer dari rumah sakit, orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan mengatakan jika semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh tank-tank Israel, ” tulis Dokter Ang.

Tidak sampai sejam kemudian, tentara Israel menyerbu Rumah Sakit Akka dan menembak mati para perawat, dokter, dan seluruh pasien. Seluruh perempuan di rumah sakit tersebut diketahui diperkosa dahulu sebelum dibunuh. Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit berlarian ke sana kemari mencari tempat yang dianggapnya aman. Mereka berteriak-teriak bahwa tentara Israel mengejar mereka dengan tank.

Ketika malam tiba, suara dentuman meriam dan ledakan besar tidak lagi terdengar, hanya saja rentetan senapan mesin masih berlangsung sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter.

Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar disusul suara ledakan keras di sana-sini. Rentetan tembakan tidak pernah berhenti.

“Ini membuatku bertanya-tanya apakah di kamp itu masih ada pejuang-pejuang Palestina?” tanya Dokter Ang keheranan karena ia tahu betul bahwa tidak ada seorang pejuang Palestina pun yang masih ada di kamp.

Ketika hari mulai siang, Dokter Ang kedatangan banyak sekali perempuan-perempuan Palestina yang terluka tembak. Dari mereka Doker Ang mengetahui jika tentara Israel mengawal anggota-anggota milisi Kristen Phalangis untuk membantai orang-orang Palestina di kamp Sabra-Shatila.

Dalam bukunya, Dokter Ang yang menjadi salah satu saksi mata tragedi pembantaian kamp Sabra-Shatila menulis, “Tentara-tentara Israel dan sekutunya itu merangsek ke rumah-rumah dan gang-gang kecil sambil menembakkan senjata mereka dengan royal. Granat dan dinamit mereka lemparkan ke jendela-jendela rumah yang penuh berisi orang. Para perempuan banyak yang diperkosa sebelum dibunuh. Para bayi Palestina diremukkan tulang-tulang dan kepalanya sebelum dibunuh. Banyak anak-anak kecil dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, yang lain tangan dan kakinya dipatahkan oleh popor senjata. Untuk pertama kalinya, aku menangis di sini. ”

Sejarah mencatat, pembantaian Sabra Shatila merupakan genosida paling berdarah. Hanya dalam waktu tiga hari, tidak kurang dari 3. 297 orang Palestina—kebanyakan para perempuan dan anak kecil, bahkan bayi-bayi—menemui ajal dengan cara yang amat mengerikan. Anehnya, PBB dan dunia internasional tidak mengecam tragedi besar ini. Media Barat pun banyak yang berupaya menutup-nutupi fakta yang terjadi.

Doktrin Rasisme Talmud
Yang jadi pertanyaan: Mengapa orang-orang Israel itu mampu melakukan kesadisan dan kebiadaban yang amat mengerikan terhadap orang Palestina yang sama sekali tidak berdaya apa-apa.

Jawabannya diberikan sejarawan Illan Pappe, seorang Yahudi yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”.

Pappe adalah salah satu sejarawan Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya. ” (Baudoin Loos, “An Interview of Illan Pappe, ” 29 Nov 1999,

http://www.josephcooper.eu/videos/21.html,
http://www.counterpunch.org/barat06062008.html

Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan.

Sejak Usia Dini
Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies, sungguh mengguncang nalar kita.

Ketika itu Ary ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ”

Hasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis?

Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:

“Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…ha”

Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.(!)

Ayat-Ayat Talmud
Di bawah ini adalah segelintir ayat-ayat Talmud yang dijadikan doktrin perang tentara Israel. Dalam peperangan, seorang tentara Israel wajib mendaras Talmud dalam kesempatan yang khusus. Terlebih di hari Sabbath (Sabtu).

– “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta menipu Ghoyim (non-Yahudi)” (Baba Kamma 113a)
– “Semua anak keturunan Ghoyim sama dengan binatang, ” (Yebamoth 98a)
– “Seorang Ghoyim yang berbaik pada Yahudi pun harus dibunuh, ” (Soferim 15, Kaidah 10)
– “Barangsiapa yang memukul dan menyakiti orang Israel, maka ia berarti telah menghinakan Tuhan, ” (Chullin, 19b)
– “Orang Yahudi adalah orang-orang yang shalih dan baik di mana pun mereka berada. Sekali pun mereka juga melakuan dosa, namun dosa itu tidak mengotori ketinggian kedudukan mereka, ” (Sanhedrin, 58b)
– “Hanya orang Yahudi satu-satunya manusia yang harus dihormati oleh siapa pun dan oleh apa pun di muka bumi ini. Segalanya harus tunduk dan menjadi pelayan setia, terutama binatang-binatang yang berwujud manusia, yakni Ghoyim, ” (Chagigah 15b)
– “Haram hukumnya berbuat baik kepada Ghoyim (Non-Yahudi) , ” (Zhohar 25b)



Categories: politik, review buku