Home > berita dalam negeri > Heboh Dukun Cilik Ponari

Heboh Dukun Cilik Ponari

Akhir akhir ini saya dibuat terkejut dengan fenomena Ponari si dukun cilik dari jombang, kasus tersebut booming saat salah seorang tetangga Ponari memukul ayah ponari akibat ingin menguasai Ponari yang mungkin bisa saja di andalkan sebagai mesin penghasil uang. Warga yang datang ribuan sampai menyesak di gang gang kampung. Dan bahkan sampai sampai saking banyaknya orang orang yang ingin berobat sampai menimbulkan crowded dan menimbulkan korban jiwa meninggal! Edan! Tapi inilah yang terjadi. Saya jadi teringat ingat pada saat Ryan si jagal jombang yang mengubur korban korbannya di pekarangan rumahnya.waktu itu yang menonton ke lokasi TKP begitu banyak dan sampai sampai di jadikan lahan bisnis oleh pedagang pedagang yang memanfaatkan keramaian itu. Selamat datang di Indonesia. Inilah fenomena yang terjadi di Indonesia.
Saya berfikir mengapa rakyat kita semakin banyak yang mempercayai hal hal yang berbau irrasional atau klenik sehingga mengalahkan pengobatan medik? Tak urung Menteri kesehatan kita, ibu Siti Fa’adhilah Supari urun komen mengenai masalah ini. Pernyataan bahwa akses kesehatan di indonesia khususnya di pelosok tidak memadai dan mahal sehingga masyarakat cenderung beralih ke pengobatan non medik ( menggunakan jasa dukun) dibantah keras keras oleh Ibu menteri, ia berdalih orang orang yang berdatangan berobat ke Ponari kadang membayar 10.000 atau 15.000 rupiah untuk sekali ‘pengobatan’ nya. Itu berarti mengenai ketidakmampuan masyarakat mendasari ramainya pasien Ponari ini dianggap tak masuk akal.


Sebenarnya, apa sih yang dilakukan Ponari dalam pengobatannya? Yang di lakukan Ponari adalah membenamkan sebongkah batu kecil (seukuran telur) yang dicelupkan ke dalam air yang kemudian di minum pasien.dan konon berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit ringan sampai kronik. Menurut saya, bila di lihat dari segi Higienis, mencelupkan sebongkah batu ke dalam air bisa saja membawa penyakit karena batu itu bisa saja mengandung bakteri atau kuman serta organisme berbahaya lainnya. Namun masyarakat banyak yang mengaku setelah berobat menjadi lebih sehat, apakah itu sugesti?..Namun tak banyak pula yang mengaku biasa biasa saja sehabis ‘berobat’ dari ponari.

Jadi apa yang melandasi banyaknya orang orang berduyun duyun ke Ponari si dukun cilik tersebut? Saya mungkin akan sedikit memberi pendapat disini. Menurut saya berduyun duyungnya orang datang ke dukun cilik tersebut semata mata dikarenakan orang orang sekitar suka menyaksikan sesuatu yang jadi berita, sebagai contoh, kejadian Ryan saja banyak masyarakat berduyun duyun datang sekedar melihat, padahal tak jarang beberapa diantara mereka datang dari luar kota dan datang hanya untuk melihat lokasi TKP, begitu pula lokasi penyergapan teroris DR.Azhari di batu Malang , yang mendapatkan antusiasme yang hebat dari masyarakat bahkan dari luar kota menyempatkan menengok lokasi tersebut bahkan sampai dijual merchendise berupa kaos!. Mengenai banyaknya yang berobat mungkin bisa saya katakan hanya sekedar iseng atau mencoba coba karena mungkin kebetulan punya penyakit yang susah disembuhkan sehingga mereka sekalian menjajal pemberitaan yang bisa saja ‘getok ular’ alias dari mulut ke mulut mengenai kehebatan si Dukun tersebut. Korelasi antara ketidakmampuan finansial terkadang tak berlaku disini, dikarena banyak yang mampu membayar dan diberbagai kasus serupa karena dianggap si dukun tersebut benar benar sakti, maka mereka berani membayar lebih untuk sekedar minta petunjuk nomer (ha..ha..ha ini yang lucu). Dari beberapa kasus pasien tak merasakan apa apa dan juga ada yang merasakan perbedaan, dan saya rasa itu sebagai sugesti saja bagi yang mempercayainya atau mungkin sebatas kebetulan belaka.

Ada baiknya pihak pemerintah, khususnya Menkes lebih memperhatikan daerah daerah yang mungkin belum ter cover dengan baik oleh fasilitas kesehatan, agar lebih banyak membuka fasilitasnya di sertai penyuluhan mengenai apa itu kegiatan medis dan pencegahannya, sehingga masyarakat lebih terbuka lagi dengan jenis pengobatan modern.Selain itu masalah biaya agar tidak terlalu di bebani sehingga tidak sampai masyarakat sudah tak mampu membayar kemudian lari ke pengobatan yang tidak logis tersebut. Memang sehat itu mahal, namun kalau kita mampu memahami bagaimanakah cara hidup sehat tersebut, saya rasa kemungkinan kemungkinan seperti ini bisa di kurangi bertahap.

Terakhir saya mendengar ada dukun tandingan yang serupa di jombang yang juga masih anak anak. Dan untuk kasus terakhir ini saya agak sedikit tersenyum sendiri, karena si dukun cilik Ponari di amankan di Kapolsek dan pasien pasien nya banyak berdatangan dan tetap menunggu pengobatan Ponari, tiba tiba hadir dukun serupa dengan cara pengobatan yang sama! Komen saya untuk yang ini “sepertinya ada kemungkinan persaingan bisnis dan masalah keuntungan yang bisa di raup”.Waalahuallam bishowab. (panzer)

Categories: berita dalam negeri
  1. Rumah Islami
    February 20, 2009 at 10:27 am

    ternyata hubungan antara sugesti dan kesembuhan itu sangat erat ya…apapun medianya entah obat, “ponarisweat”, dll :)masyarakat kita tdk bisa lepas dari pengobatan alternatif karena memberikan harapan kesembuhan dan relatif lebih murah (?) ketimbang datang ke dokter. warning bagi pemerintah utk lbh peduli ya

  2. Rifky Panzer™
    February 23, 2009 at 3:42 pm

    Cegah Syirik, Kiai Ceramah di Tengah Antrean Pasien Dukun CilikJOMBANG – Semakin maraknya fenomena dukun dengan alat batu semakin membuat prihatin kalangan alim ulama di Jombang, Jawa Timur. Setelah melihat sikap penolakan tidak digubris masyarakat, sejumlah kiai mulai turun langsung dengan mendatangi tempat praktik dukun tiban.Seperti yang dilakukan KH Abdul Choliq, ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang. Kemarin (22/2) KH Choliq datang langsung ke lokasi praktik dukun Siti Nurrohmah di Perumahan Tambakrejo Asri, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang. Tujuannya agar masyarakat tidak semakin terjebak pemahaman bahwa kesembuhan itu diberikan si dukun dan batunya.Maklum saja, tiga dukun yang muncul dalam dua bulan terakhir di Jombang, yakni Ponari, Slamet, dan Nurrohmah, menggunakan isu batu ''ajaib''. Apalagi, batu milik Nurrohmah yang diklaim pemiliknya bisa ''berbicara''. ''Sebenarnya saat tempat itu mulai dipadati masyarakat, kami sudah bersiap untuk memberikan pemahaman secara langsung,'' ungkap KH Choliq saat ditemui Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) di lokasi.Dengan menggunakan pengeras suara, Choliq meluruskan pendangan masyarakat agar tidak semakin terjebak ke pemahaman syirik. Sebab, dengan isu batu ''bicara", tidak sedikit masyarakat yang memercayai. Dengan isu semacam itu, seakan-akan batu milik Nurrohmah memiliki kekuatan mistis. Apalagi dibumbui cerita mistis dari mulut ke mulut soal para ''penunggu" batu tersebut.Menurut Choliq, masyarakat harus mengerti bahwa pemahaman seperti itu menyesatkan. Arena itu, dia menyarankan agar setiap hendak berobat alternatif, pasien senantiasa menyebut basmallah. Dengan begitu, mereka selalu ingat bahwa kesembuhan itu hanya diberikan Tuhan. ''Dengan senantiasa menyebut asma Allah, Saudara semua dapat terhindar dari pemahaman yang syirik,'' ujarnya.Ny Hanifah, salah seorang pengunjung asal Jombang, berpendapat bahwa pengarahan langsung seperti itu memang perlu. Sebab, sebagian besar masyarakat masih sangat percaya dengan hal-hal berbau klenik. Akibarnya, memang sangat rawan syirik jika sampai menganggap batu itu memiliki kekuatan.Hanifah sendiri memang datang ke lokasi untuk meminta air ''kesembuhan'' dari Nurrohmah. Menurut dia, itu adalah upaya untuk menyembuhkan penyakit suaminya. Meski tidak percaya kepada hal-hal klenik, Hanifah mengaku kedatangannya adalah sebuah upaya. Apakah akan sembuh atau tidak, dia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. ''Apabila ada jalan, tentunya kami akan berupaya. Untuk kesembuhan, kami hanya menyerahkan kepada Yang di Atas," ujarnya.Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan siap meninjau ulang fatwa tentang pengobatan alternatif. Itu dengan mempertimbangkan aksi berlebihan yang dilakukan ribuan pasien pengobatan alternatif, terutama di Jombang, yang dianggap membibit kemusyrikan. ''Bila ada bukti ada yang mengumpulkan benda-benda milik Ponari seperti air comberan hingga potongan genting rumahnya untuk media penyembuhan, itu jelas menyimpang dan bertolak belakang dengan ajaran Islam,'' tegas Ketua MUI Bidang Fatwa KH Ma'ruf Amin ketika dihubungi kemarin.Ma'ruf mengatakan bahwa pihaknya memang sudah menyusun fatwa memperbolehkan pengobatan alternatif. Namun, ada sejumlah koridor dalam upaya pengobatan alternatif yang harus dipatuhi. Yakni, adanya upaya untuk meyakinkan bahwa kesembuhan berasal dari Allah SWT semata. Selain itu, dalam praktik pengobatan alternatif, pasien diharamkan untuk mengultuskan penyembuh maupun media penyembuhan. ''Tak ada manusia atau bahkan makhluk apa pun yang bisa memberikan kesembuhan kecuali atas izin Allah,'' tegas dia.Salah seorang anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu segera mengagendakan pertemuan dengan MUI Jatim dan MUI Jombang untuk membahas praktik perdukunan yang kian marak di wilayah tersebut. Yang pasti, tegas dia, dirinya baru mendapatkan informasi tentang praktik dukun cilik Ponari secara sepenggal-sepenggal dan belum tuntas. Untuk itu, dalam waktu dekat pihaknya akan mengumpulkan data dan fakta.Sementara itu, Menteri Agama Maftuh Basyuni meminta agar praktik dukun cilik Ponari ditutup karena terus memicu reaksi. Menag menyayangkan adanya kegiatan yang dinilai dapat merusak akidah tersebut. Menteri juga mendukung langkah MUI dan ormas Islam Jawa Timur yang mendorong hal tersebut diselesaikan dengan sebaik-baiknya. ''Kalau perlu, ditutuplah,'' tandas Menag kepada wartawan setelah meresmikan Masjid Baitusshomad Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila di Desa Tegalombo, Pacitan, Sabtu (21/2).Menag mengatakan, banyaknya pasien yang mendatangi tempat praktik Ponari menunjukkan bahwa di masyarakat masih banyak kekurangan. Baik dalam hal keimanan maupun ilmu pengetahuan. (doy/nk/zul/jpnn/kim)http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=53861

  3. Rifky Panzer™
    February 24, 2009 at 7:30 pm

    Sekolah Ponari Terabaikan, Pemerhati Pendidikan PrihatinJOMBANG – Hak Ponari untuk bersekolah dan bermain layaknya anak seusianya semakin terabaikan. Ini terlihat setelah panitia kembali membuka praktik dukun tiban tersebut dengan jumlah pasien yang mencapai ribuan setiap hari. Menyikapi perkembangan ini sejumlah pihak menyatakan keprihatinannya.”Praktik itu harus ditutup secepatnya. Sebab, hak seorang anak hilang akibat setiap hari dipaksa bekerja melayani 5.000 orang yang bukan tugasnya,” cetus Ketua Dewan Pendidikan Jombang KH Abdul Mukhid Djaelani kepada Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) kemarin (23/2). Mukhid mendesak forum muspida secara aktif menutup praktik pengobatan menyimpang tersebut. Sebab, semua pihak punya kewajiban menjalankan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun yang menjadi hak Ponari. ”Kalau pejabatnya tidak turun tangan, muspika juga tidak akan berani bergerak,” tegasnya.Mukhid menyebut, jika muspida membiarkan hal itu berlangsung, berarti mereka ikut menanggung beban mental. Kepala sekolah dan UPTD diminta berkoordinasi secara internal dalam mengatur hak belajar Ponari ini. Termasuk mengarahkan dan memantau Ponari agar tidak membawa ponsel saat di sekolah. ”Berilah kesempatan anak mencari ilmu,” harapnya. Dibukanya kembali praktik itu justru dimanfaatkan berbagai pihak untuk mengeruk keuntungan sendiri. Sebab, semuanya bisa menghasilkan uang. Mulai tempat parkir, berjualan makanan minuman, sampai panitia dan pengamanan.Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP-KB) Jombang M. Amin Sani berharap Ponari bisa diberi kebebasan dan tidak terus dipaksa mengobati pasien. Misalnya, bisa bersekolah dan bebas bermain dengan wajar. Secara psikologis Ponari semakin terkekang dan terbebani karena harus mengobati puluhan ribu orang setiap hari. ”Akibatnya, tidak ada lagi kesempatan hidup laiknya anak seusianya.”(bin/doy/yr/jpnn/kim)http://jawapos.com/

  4. April 12, 2016 at 8:13 pm

    Hurrah, that’s what I was seeking for, what a material! present here
    at this web site, thanks admin of this web site.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: